KEMUDIAN MALAMNYA IA PERGI

Eko Mrg 24 Oktober 2019 13:35:08 WIB

Di masa silam, Perjanjian Giyanti ini dibuat dalam rangka meredam api konflik yang telah terjadi berlarut-larut. Pasca perpindahan Keraton Kartasura ke Surakarta, api dari peristiwa Geger Pecinan ternyata belum mati tepat di sumbunya. Pada waktu itu, Mangkubumi yang membantu Pakubuwana II dalam meredakan api konflik mendapatkan hadiah berupa sebidang tanah dari Pakubuwana II. Namun, luas tanah yang diberikan rupanya menimbulkan kecemburuan.

Salah seorang pangeran lalu mengeluhkan ketidakadilan terkait hadiah tersebut kepada Gubernur Jendral Baron Van Imhoff. Sang gubernur jenderal di Batavia itu lantas mengeluarkan keputusan yang membuat tanah tersebut tidak jadi dimiliki oleh Mangkubumi. Akhirnya dia meminta izin kepada kakaknya, PB II “Daripada lungguh (tahta) saya dikurangi, lebih baik buanglah saja saya sampai saya tidak bisa kembali lagi ke Jawa” ujar Pangeran Mangkubumi. Akhirnya diberi sangu (bekal berupa uang) 3000 real “Ini jatah untuk makan anak buahmu, silahkan pergi” jawab Pakubuwana II. Kemudian malamnya ia pergi.

(sumber : https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/02/02/perjanjian-giyanti-sejarah-tanah-jawa-yang-tak-boleh-dilupakan)

Dalam cerita yang diyakini masyarakat Kecamatan Panggul, kepergian Pangeran Mangkubumi dan anak buahnya  itu adalah menuju arah timur, yakni menuju Kecamatan Panggul.

Selama menetap di Kecamatan Panggul, Pangeran Mangkubumi beserta pasukannya selalu saja berjuang melawan belanda. Beliau dibantu Abdi Dalem Setra Ketipa dan Demang Panji Nawangkung. Beberapa hulu balangnya gugur di medan pertempuran dan diyakini masyakarat Kecamatan Panggul di makamkan di Makam Purna; yang terletak di Dusun Karang Desa Wonocoyo.

Hingga suatu ketika dikisahkan Pangeran Mangkubumi menjalin asmara dengan Mas Ayu Nitisari yang tak lain adalah Putri Demang Panji Nawangkung. Setelah menikah Mas Ayu Nitisasri diboyong ke Keraton Jogjakarta. Mangkubumi pun bertahta raja dan bergelar Sri Sultan Hamengkubowono I.

Dengan Mas Ayu Nitisari, Sri Sultan Hamengkubuwono I dikaruniai tiga orang putra yakni RM Suwardi,  RAy Purwadipura dan RM Lancur.

Dikisahkan, saat Mas Ayu Nitisari sedang mengandung RM Lancur, abdi dalem Setra Ketipa datang ke Keraton Jogjakarta. Maksud hati hendak menagih Janji Sri Sultan Hamengkubuwono I saat masih berjuang bersamanya di Panggul. Bahwa abdi dalem setara dirinya telah banyak yang diberi jabatan di Keraton Jogjakarta. Setra Ketipa merasa dirinya telah dilupakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono. Ia pun membuat ulah; mengintip isteri Sri Sultan yang sedang mandi.  Dengan cara itulah ia yakin akan bisa bertemu dengan Sri Sultan.

Benar saja, Setra Ketipa ditangkap hulu balang kerajaan. Setra Ketipa siap menerima hukuman mati dengan syarat ia dihukum di hadapan Sri Sultan. Namun kemarahan Sri Sultan padam seketika saat mengetahui si Pembuat Ulah ternyata Abdi Dalem Setra Ketipa.

Setra Ketipa kemudian diampuni. Ia diperkenankan mengajukan permintaan jabatan. Setra Ketipa pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Ia minta dijadikan Bupati Pacitan sekaligus diperkenankan memperisteri Mas Ayu Nitisari.

Kondisi Mas Ayu Nitisari kala itu sedang mengandung. Sri Sultan meskipun dengan berat hati mengabulkan permintaan Setra Ketipa; dengan syarat Mas Ayu Nitisari boleh dinikahi setelah putra yang dikandungnya lahir.

Saat menjabat Bupati Pacitan Setra Ketipa bergelar Setro Wijoyo I. Saat itulah, Mas Ayu Nitisari melahirkan putra mahkota yang kemudian diberi nama Raden Mas Lantjoer; yang tak lain adalah keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Kemudian, RM Lantjoer menggantikan Setra Ketipa sebagai bupati Pacitan  dengan gelar Setro Wijoyo II. RM Lancur inilah yang menurunkan RM Sumo Wijoyo yang kemudian ketika meninggal dimakamkan di Gunung Cilik Desa Wonocoyo yang letaknya tidak jauh dari Makam Purna tempat pasukan  eyangnya Sri Sultan Hamengkubowono I dimakamkan saat gugur melawan belanda.

Saat ini Pemerintah Desa Wonocoyo mencoba untuk mengamankan situs makam Purna dan Makam Gunung Cilik. Dibantu oleh Sayid Munandar; yang merupakan keturunan Sumo Wijoyo, makam itu kini diberi pagar pengaman. Agar tidak terdesak makam baru karena makam Purna juga digunakan sebagai pemakaman umum. (Eko Mrg).

Komentar atas KEMUDIAN MALAMNYA IA PERGI

eko 27 Oktober 2019 11:33:52 WIB
Siap Pak Edif...terima kasih atas perhatiannya.
Edif 25 Oktober 2019 20:30:59 WIB
Cerita yang sangat menginspirasi, mohon di ceritakan juga perjuangan keturan Raden Mas lantjoer di Panggul, utk mengidentifikasi rencana event "Napak Tilas Pangeran mangkubumi di bumi Panggul
Edif 25 Oktober 2019 20:30:57 WIB
Cerita yang sangat menginspirasi, mohon di ceritakan juga perjuangan keturan Raden Mas lantjoer di Panggul, utk mengidentifikasi rencana event "Napak Tilas Pangeran mangkubumi di bumi Panggul

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

testing

testing

Lokasi Wonocoyo

tampilkan dalam peta lebih besar