Aksi Nyata Merdeka Belajar Kampus Berdampak UNAIR di Pantai Kili-Kili
Eko Mrg 11 Juni 2026 09:01:39 WIB
Wonocoyo, 01 Mei 2026
Mahasiswa Universitas Airlangga melalui program Merdeka Belajar Kampus Berdampak melaksanakan kegiatan patroli di kawasan Pantai Kili-Kili, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, pada Jumat, 01 Mei 2026. Kegiatan ini dilakukan bersama Pak Ari selaku Ketua Pokmaswas Pantai Kili-Kili yang turut mendampingi mahasiswa selama proses patroli berlangsung. Dalam kegiatan tersebut, Pak Ari juga memberikan arahan mengenai pengawasan kawasan pesisir, terutama dalam upaya menjaga telur penyu agar tetap aman.
Pantai Kili-Kili merupakan salah satu kawasan pesisir di Desa Wonocoyo yang dikenal sebagai tempat pendaratan penyu untuk bertelur. Musim peneluran penyu biasanya berlangsung pada bulan Maret hingga Agustus, dengan puncak peneluran terjadi pada bulan Mei hingga Juni. Pada waktu tersebut, pengawasan pantai perlu dilakukan lebih rutin karena jumlah telur penyu berpotensi meningkat. Selain rawan terganggu oleh kondisi alam, telur penyu juga perlu dijaga dari kemungkinan pencurian oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Kegiatan patroli dilakukan dengan menyusuri beberapa titik di sepanjang Pantai Kili-Kili yang berpotensi menjadi jalur penyu naik ke daratan dan membuat sarang. Mahasiswa UNAIR bersama Pak Ari mengamati kondisi pasir, bekas jejak di sekitar pantai, serta area yang memungkinkan menjadi tempat penyu bertelur. Dalam patroli tersebut, ditemukan adanya jejak
penyu di kawasan pantai. Jejak itu menjadi tanda bahwa penyu sempat naik ke daratan. Namun, setelah dilakukan pengecekan di sekitar lokasi, tim patroli tidak menemukan adanya telur penyu.
Meskipun telur tidak ditemukan, temuan jejak penyu tetap menjadi catatan penting. Keberadaan jejak tersebut menandakan bahwa Pantai Kili-Kili masih menjadi jalur pendaratan penyu. Oleh karena itu, patroli perlu terus dilakukan secara berkala agar apabila terdapat sarang baru, telur penyu dapat segera diamankan dan dilindungi sesuai prosedur konservasi. Patroli ini juga menjadi langkah antisipasi untuk mengurangi risiko pencurian telur penyu oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Selain melakukan pemantauan langsung di lapangan, mahasiswa UNAIR juga mendapatkan penjelasan mengenai proses penetasan telur penyu secara semi alami. Cara ini menjadi salah satu upaya konservasi untuk membantu menjaga keberlangsungan populasi penyu. Telur penyu yang berhasil diamankan biasanya akan dipindahkan ke sarang semi alami dengan tetap memperhatikan kondisi lingkungan, terutama suhu penetasan.
Berdasarkan informasi edukasi di kawasan konservasi, suhu penetasan dapat memengaruhi jenis kelamin tukik. Suhu sekitar 27,4°C–29,5°C cenderung menghasilkan tukik jantan, sedangkan suhu di atas 29,5°C cenderung menghasilkan tukik betina. Karena itu, suhu pada sarang semi alami perlu diperhatikan secara berkala agar keseimbangan jenis kelamin tukik tetap terjaga. Apabila suhu terlalu panas, peluang terbentuknya tukik jantan dapat berkurang dan dalam jangka panjang dapat memengaruhi proses perkembangbiakan penyu.
Melalui kegiatan patroli ini, mahasiswa UNAIR bersama Pokmaswas mendapatkan pengalaman langsung mengenai kondisi lapangan di Pantai Kili-Kili, terutama saat memasuki puncak musim peneluran penyu. Temuan jejak penyu yang tidak disertai keberadaan telur juga dapat menjadi bahan evaluasi untuk menentukan pola patroli, titik pengawasan, serta waktu pemantauan yang lebih tepat. Harapannya, kegiatan patroli ke depan dapat berjalan lebih terarah, efektif, dan efisien dalam mendukung perlindungan telur penyu.
Selain sebagai kegiatan konservasi, pencarian jejak dan telur penyu juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai wisata minat khusus. Melalui konsep ini, wisatawan dapat memperoleh pengalaman edukatif tentang konservasi penyu secara langsung, namun tetap dengan pendampingan dan aturan yang memperhatikan kelestarian lingkungan. Dengan begitu, Pantai Kili-Kili tidak hanya dikenal sebagai kawasan wisata alam, tetapi juga sebagai ruang edukasi konservasi yang memiliki nilai penting bagi masyarakat dan pengunjung.
Pemerintah Desa Wonocoyo berharap kegiatan patroli seperti ini dapat semakin memperkuat kesadaran bersama dalam menjaga Pantai Kili-Kili sebagai kawasan wisata sekaligus kawasan konservasi. Perlindungan terhadap penyu dan telurnya membutuhkan kerja sama banyak pihak, mulai dari Pokmaswas, masyarakat, pengelola konservasi, pemerintah desa, hingga
mahasiswa. Jejak penyu yang ditemukan dalam patroli ini menjadi pengingat bahwa Pantai Kili-Kili masih menjadi ruang hidup bagi penyu yang perlu terus dijaga keberlanjutannya. (ADMIN)
Formulir Penulisan Komentar
Layanan Mandiri
Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.
Masukkan NIK dan PIN!
Komentar Terkini
Statistik Kunjungan
| Hari ini | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Kemarin | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
| Jumlah pengunjung | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
- Aksi Nyata Merdeka Belajar Kampus Berdampak UNAIR di Pantai Kili-Kili
- TEBING BANTENG, DESTINASI MENGUJI NYALI
- Sirup Mangrove dari Buah Bogem sebagai Potensi dan Ekonomi Kreatif Desa Wonocoyo
- PRIORITAS PENGGUNAAN DANA DESA TAHUN 2026
- MENJAGA PURBA TERSISA DARI ANCAMAN KEPUNAHAN
- MENJAGA NGUMBUL TIRTA UNTUK KEHIDUPAN
- AKSI MITIGASI TIGA PILAR DESA WONOCOYO “DILARANG MANDI DI LAUT”
.jpeg)












